BRM Kusumo Dorong PB XII dan MN VIII Sebagai Pahlawan Nasional

Surakarta – Sebagai wujud apresiasi negara terhadap peran dan jasa PB XII dan Mangkunegara VIII, Ketua Umum Yayasan Forum Budaya Mataram (FBM)  yang juga Dewan Pemerhati dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI), Dr. BRM Kusuma Putra, S.H., M.H., mengusulkan kepada pemerintah untuk memberikan gelar pahlawan kepada keduanya.

Kusumo menilai Raja Kasunanan Surakarta dan Adipati Mangkunegara yang memiliki andil sangat besar mewujudkan Indonesia sebagai negara yang berdaulat secara utuh. PB XII dan Mangkunegara VIII yang dengan penuh kerelaannya menyatakan bergabung dengan Negara Republik Indonesia, sehingga Indonesia menjadi negara yang berdaulat secara penuh.

Begitu juga hubungan antara Negeri Surakarta Hadiningrat dengan pemerintah Pusat Negara Republik Indonesia bersifat langsung. Hal itu tertuang dalam isi makloemat PB XII.

Maklumat yang disampaikan PB XII dan MN VIII memperjelas peran mereka berdua yang penuh dengan kerelaan berada di belakang Pemerintah Republik Indonesia, atau dapat ditafsirkan menjadi bagian dari Negara Republik Indonesia.

“Menilik sejarah perjuangan para penerus Mataram di masa perang penjajahan Belanda, tak sedikit keluarga Kerajaan dan rakyat Mataram terbunuh akibat menentang penjajahan. Sebagai pusat pemerintahan suatu negara Kerajaan yang berdaulat, kebijakan politik raja tentu mempertimbangkan berbagai aspek sosial, politik dan ekonomi,” kata Kusumo yang juga Bawawali Solo dalam keterangan tertulisnya, Rabu (19/6).

Kusuma menyebut, sebagai bangsa pejuang yang secara turun temurun mewarisi sejarah besar peradaban Nusantara, Raja Raja Mataram tidak hanya berkorban dan berjuang membela kepentingan rakyat. Baik yang dilakukan secara terang terangan maupun sembunyi.

Bahkan pengorbanan yang begitu besar dicontohkan oleh Paku Buwono VI, yang harus rela dibuang ke Manado bersama dengan Pangeran Diponegoro akibat menentang Kolonialisme yang dilakukan oleh Belanda,

Perjuangan raja raja Kasunanan menentang penjajahan tidak hanya berhenti sampai pada PB VI saja, para penerusnya juga melakukan hal yang sama meski cara dan strategi yang diterapkan berbeda beda.

Sultan agung berkali kali menggempur markas Belanda di Batavia, Pangeran Purubaya yang dikenal sebagai Banteng Mataram juga bertempur melawan Belanda. Raden Mas Said, Pangeran Diponegoro, Sinuhun PB VI, Sinuhun PB X hingga berlanjut ke PB XII dan MN VIII yang juga turut berjuang di awal awal jelang Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Kusuma mengungkapkan, penjajahan yang dilakukan oleh Belanda melalui korporasi perusahaan dagang VOC pada masa lalu merupakan tindakan yang tidak manusiawi. Sebab penjajahan tersebut tidak hanya mengekang kebebasan rakyat, merampok sumber daya alam, sosial dan politik, akan tetapi juga melakukan pembodohan mindset rakyat Indonesia.

“Oleh karena mengingat jasa raja raja Mataram yang begitu besar, maka sudah sepantasnya mereka diusulkan untuk menjadi Pahlawan Nasional,” tegas Kusumo.

Lanjutnya, dengan harapan pengorbanan mereka yang begitu besar terhadap bangsa dan negara di hargai, serta dapat menjadi suri tauladan bagi para generasi muda.

Kusumo berharap peristiwa kelam bagian dari sisi sejarah yang tak disertakan dalam roda kehidupan dijadikan pelajaran, agar langkah menapaki masa depan bangsa berjalan penuh semangat dan optimisme.

“Pelajaran sejarah yang mampu menjadi modal untuk optimisme dan semangat menata masa depan bangsa,” pungkasnya.

 

(Sum)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *