Pelajar Islam Indonesia (PII): Tandang ke Gelanggang Walau Seorang

Oleh :

T.M. Jamil, Assoc. Prof. Dr, Drs, M.Si

Aktivis dan Kader Pelajar Islam Indonesia (PII) – Aceh Timur, Tahun 1978

 

Selamat Milad PII Ke 77. Semoga Eksistensinya Semakin Jaya. BANGSA telah mencatat bahwa Pelajar Islam Indonesia atau disingkat PII adalah organisasi Pelajar Islam tertua di Indonesia. Berdiri pada 4 Mei 1947, kiprah PII tidak dapat dipandang sebelah mata. Sebagai organisasi yang berlandaskan pada kaderisasi dan pengkaderan, PII telah banyak menelurkan bermacam-macam kader. Di antara alumni PII ada yang berkiprah di bidang politik, akademik, budaya, hukum, sosial-ekonomi dan tentu saja keagamaan. Pada level nasional, seperti Kanda M. Yusuf Kalla, Kanda Muhadjir Effendy, Kanda Herry Azhar Aziz, Kanda Muzammil Yusuf, Kanda Abdullah Puteh, Kanda Sofyan A. Djalil, dan lain-lain. Begitu juga kader-kader PII tingkat lokal/daerah yang hebat seperti, Kanda/Abu Muhammad Yus, Kanda Miswar Sulaiman, Kanda Teuku Chalidin Yakob, Kanda Sofyan A. Djalil,  Kanda Hasbi M. Amiruddin, Kanda Farid Wajdi, Kanda Jafaruddin Husen, Kanda Zulkifli Amin, Kanda A. Malik Raden, dan masih banyak lagi yang lain. Semoga dari Aceh Baru kelak lahir juga tokoh-tokoh nasional dari rahim kaderisasi PII.

Pelajar Islam Indonesia secara resmi bangkit pertama kali 4 Mei 1947 di kota perjuangan Yogyakarta oleh beberapa intelektual muda ternama saat itu antara lain ; Yoesdi Ghazali , Anton Timur Jaelani, Amin Syahri dan Ibrahim Zarkasy. Salah satu faktor yang melandasi kebangkitan PII adalah adanya dualisme dalam sistem pendidikan terhadap umat Islam Indonesia oleh penjajah Belanda yaitu pesantren dan sekolah umum. Pesantren memiliki orientasi esakatologis sementara sekolah umum berorientasi pada duniawi. Sebagai konsekuensi dari dualisme sistem ini para siswa terpecah menjadi dua kubu dan saling mengejek. Para santri mengklaim sekolah umum sebagai sekolah sekuler yang tidak percaya pada Tuhan, sistem pendidikan warisan penjajah Belanda dan mengkafirkan para siswa yang belajar di sekolah umum. Pada sisi yang lain, pelajar dari sekolah umum mengejak santri sebagai pelajar yang tradisional, kuno, konserfatif dan ketinggalan jaman.

Adapun tujuan dari organisasi ini adalah menyempurnakan pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan sesuai dengan ajaran Islam bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada Kongres I PII di Solo tahun 1947, tujuan tersebut diperluas menjadi ; “Kesempurnaan pengajaran dan pendidikan yang sesuai dengan Islam bagi Republik Indonesia”.

Pelajar Islam Indonesia adalah Organisasi Pelajar Islam tertua di Indonesia yang masih eksis dan berdiri hingga hari ini. PII berdiri pada tanggal 4 Mei 1947 di Jogjakarta oleh seorang pemuda bernama Yoesdi Ghozali. PII merupakan organisasi yang fokus kepada dua hal yaitu pendidikan dan kebudayaan sebagaimana  tujuan PII yaitu :  ”Kesempurnaan pendidikan dan Kebudayaan yang sesuai Islam bagi segenap rakyat Indonesia dan  umat manusia” (BAB III pasal  AD).  Sebagai organsisasi pelajar tertua PII sudah banyak melahirkan pra pemimpin bangsa Indonesia.

PII memiliki slogan “Tandang ke gelanggang walau seorang” yang artinya bahwa seorang kader PII tidak akan takut untuk berdakwah dan berjuang untuk kebenaran meskipun ia hanya sendiri karena baginya cukuplah Allah Swt sebagai teman dalam berjuang yang akan menemaninya kemanapun ia pergi. Slogan inilah yang menjadi spirit bagi seluruh kader PII dalam bergerak dan berdakwah.

Pada saat itu telah ada organisasi yang bernama Ikatan Pelajar Indonesia (IPI). Akan tetapi organisasi ini tidak mampu mengakomodasi aspirasi santri, sehingga tidak dapat mempertemukan dua kelompok pelajar yang saling bertentangan ini. Menyadari realitas sosial ini, ketika itu ada seorang pemuda Islam bernama Yoesdhi Ghozali yang melakukan iktikaf di Masjid di Yogyakarta dan pada tanggal 25 Pebruari 1947 mendapat ilham untuk mendirikan suatu organisasi yang dapat mengakomodasi pelajar Islam baik dari pesantren maupun sekolah umum. Gagasan ini kemudian disampaikannya di SMP Negeri 2 Secodiningrat, Yogyakarta.

Teman-temannya yang menghadiri pertemuan itu adalah Anton Timur Djaelani, Amien Syahri, dan Ibrahim Zarkasyi juga semua audiens menyetujui untuk mendirikan suatu organisasi untuk pelajar muslim yang akan menampung pelajar dari sekolah umum dan pesantren. Kesepakatan ini kemudian dipresentasikan dalam Kongres Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) pada tanggal 30 Maret s.d. 1 April 1947. Mayoritas dari peserta kongres menyetujui gagasan tersebut. Bahkan kongres kemudian menetapkan untuk menggabungkan divisi/bidang kepelajaran dari GPII ke dalam PII. Selain itu para peserta kongres juga diminta untuk membantu dan memudahkan pendirian cabang-cabang PII di seluruh Indonesia. Alhamdulillah, sejak tahun 1978 saya telah menjadi kader PII di Aceh Timur, sebelum menjadi Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), saat menjadi Mahasiswa.

Peran pemuda dalam membangun bangsa akan menjadi prioritas utama. Sebab, ke depannya bangsa ini akan disibukkan dengan rekayasa sosial yang di dalamnya membutuhkan keampuhan dan kehebatan para pemuda Indonesia untuk menghadapinya. Kehebatan tekhnologi, informasi dan perkembangan ekonomi akan menjadi bagian yang teramat penting bagi pembenahan pemuda kedepannya agar siap menghadapi semua permasalahan bangsa. Nilai harmonisasi bangsa akan terjaga dengan baik jika dikelola oleh pemuda yang cerdas dan terdidik oleh bangsanya sendiri. Pluralisme yang ada di Indonesia bisa menjadi salah satu identitas tersendiri dalam melahirkan nilai-nilai persatuan.

Jayanya suatu negara tergantung kepada pemimpin dan jiwa dan peran pemudanya. Mustahil sekali kejayaan, kemegahan dan kemakmuran dicapai apabila peran pemuda tidak bisa memberikan nilai kontribusi kepada negaranya. Kontribusi dimaksud adalah sejauh mana kualitas moral dan intelektual generasi muda disumbangkan kepada eksistensi negaranya.

Generasi muda merupakan harapan untuk menggantikan mereka yang sudah tua. Sudah sepantasnya generasi muda harus siap melanjutkan bahkan mengembangkan apa yang sudah dilakukan oleh orang sebelumnya. Hal ini akan terus berjalan sesuai dengan perkembangan zaman dan menjadi pengaruh besar dalam perkembangan sebuah bangsa dan negara ke depan.

Generasi muda yang mempunyai moral atau dalam islam disebut sebagai akhlak merupakan konsekuensi yang harus ada apabila sebuah bangsa ingin maju dan berkembang. Tidak akan mungkin negara bisa berkembang apabila generasi muda dari bangsa itu sendiri tidak memiliki akhlak yang mulia tetapi justru mengedepankan kemungkaran menuju kerusakan.

Sungguh pun demikian, keberadaan PII sebagai wadah pelajar Islam saat ini, jika boleh dikatakan, dalam posisi antara “ada” dan “tiada.” Pasalnya, begitu jarang saat ini ada aksi-aksi yang menanyakan keputusan pemerintah yang bersifat fundamental dan menyusahkan rakyat.

Kebanyakan para kader saat ini terninabobokan oleh kondisi serba nyaman yang justru membuat kita statis, beku dan kaku serta monoton. Dahulu, tiap ada libur sekolah dan bulan ramadhan dapat dipastikan selalu ada wadah pengkaderan, seperti Basic Training atau Mental Training. Bagaimana dengan saat ini? Adik-adik lah yang bisa menjawabnya.

Saya yakin, kawan-kawan/adik-adik satu pengurus Wilayah, satu pengurus Daerah akan menertawakan tulisan saya ini atau lebih buruknya mencaci maki dan mungkin juga menghina. Namun, inilah kegelisahan dan keresahan yang sering saya rasakan. Mau bagaimanapun, sekali berkecimpung di PII, saya terus merasa terkait dengan PII, sampai kapanpun. Dan tulisan yang tidak seberapa ini adalah sebuah curahan hati, jika tidak boleh dikatakan kritik dan saran, seorang kader akar rumput yang mungkin sudah banyak terkontaminasi berbagi elemen, namun sejauh ini organisasi eksternal pertamaku adalah PII.

PII itu bagiku, rumah bagi mereka yang mencari keluarga, sekolah bagi mereka yang mencari Ilmu, wadah bagi mereka yang gelisah, tempat mencari solusi bagi mereka bermasalah, tempat terbentur bagi siapa pun yang ingin dibentuk, tempat berjuang bagi mereka tanpa pamrih dengan memanjatkan rasa syukur serta ikhlas, tempat karakter pertama saya dibentuk.

Dalam momentum HARI BANGKIT PII yang ke 77 ini, Teriring Salam dan Do’a Perjuangan, semoga PII selalu konsisten dengan perjuangannya, Cermat, cekatan, dan efektif dalam pengkaderan bangsa. Sebagaimana Motto PII : “Sekali Layar Berkembang Surut Kita Berpantang …”

 

Kota Serambi Mekkah, 4 Mei 2024 

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *