Power Syndrome Akibat Psikologis Dari Beban Masa Lalu Yang Salah Kaprah

Opini | patrolinusantara.press – Ketakutan yang berlebihan ketika membayangkan hilangnya jabatan atau tidak lagi menjadi pejabat bagi seseorang, itu akibat dari kecerobohan dan kesemena-menaan saat menjabat, sehingga waktu jabatan itu tidak lagi dimiliki, ketakutan akan dosa atas perbuatan yang menjadi bayang-bayang mengerikan itu sungguh akan berbalik menimpa diri sendiri.

Karena itu, berbahagialah mereka yang bisa menikmati ketentraman hati ketika tidak lagi menjabat, karena jabatan yang sesungguhnya berat itu — sebagai amanah yang harus dilakukan — justru bisa dirasakan hilangnya beban berat itu dari seluruh beban hidup. Jadi ketakutan seorang pejabat yang akan pensiun atau kehilangan jabatannya jadi merasa sangat takut itu diakibatkan oleh perilaku dan perbuatan pada masa menjabat dahulu itu mulai disadari sebagai  perlakuan atau perbuatan yang buruk yang banyak dilakukan kepada orang lain.

Karenanya bisa dipahami bila ada seorang pejabat yang begitu ngotot hendak mempertahankan atau memperpanjang masa jabatannya, karena dihantui oleh bayang-bayang dirinya sendiri yang buruk. Sehingga ketakutan akan adanya balas dendam — atau perlakuan yang sama seperti yang pernah dia lakukan dahulu terhadap banyak orang itu — kini akan menjadi giliran bagi dirinya yang mulai menyadari betapa banyaknya dosa dan perilaku jahat yang pernah dia lakukan terhadap orang lain.

Biasanya, penyakit power sindrom — begitu kata orang pintar menyebut penyakit yang mendera para pensiunan pada umumnya — karena semasa menjabat dahulu dirinya merasa bisa dan boleh melakukan apa saja karena memiliki jabatan tertentu itu. Tapi kini — setelah semua terlujut — ada semacam ketidakpercayaan diri jika keberadaan dirinya kini tidak lagi  dianggap penting oleh orang. Apalagi selama menjabat dahulu cukup ketat membatasi diri untuk tidak bergaul dengan orang kebanyakan, utamanya tetangga dan kawan-kawannya yang selalu dianggap akan menjadi beban semata. 

Artinya, kesadaran bergaul — bersosialita — semraung dengan sahabat dan kerabat serta handai taulan menjadi sangat penting — harus selalu menjadi perhatian sebelum terlambat, sehingga ketika masuk masa pensiun jangan sampai  tidak mempunyai kawan seorang pun yang bisa dijadikan tempat curhat — sekedar melepas beban dari perasaan yang tidak karu-karuan — apalagi kemudian ingin bertukar pikiran atau sekedar memperoleh saran serta pendapat dari kawan dan sahabat itu guna  sesuatu hal yang perlu disikapi dengan segera dan hendak melakukan suatu  keputusan.

Seorang pensiunan — biasanya untuk yang full power dulunya — cenderung lebih dominan abai pada sahabat dan kerabat termasuk tetangga di kiri dan kanan rumah. Sehingga saat pensiun seperti tak punya kawan dan tetangga. Akibatnya, tentu saja akan menjadi sangat kesepian. Yang ada cuma penyesalan yang tiada gunanya.

Anggapan terhadap dendam sosial yang muncul dari anggapan yang bersalah, memang merupakan masalah yang memperparah kondisi psikologis bagi setiap orang yang tak mampu mengatasi power sindrom bawaan para pensiunan — militer maupun sipil — umumnya bagi mereka yang bekerja di lingkungan publik yang terbatas. Apalagi untuk seorang Presiden misalnya yang memiliki beban keinginan yang jauh berada diluar kemampuan manusia kebanyakan.

Jacob Ereste, RS. Harapan Kita, 17 Agustus 2023

 

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *